Karya : Nilnal Muna
Dalam hidupku ini telah kuisi berbagai warna kehidupan bersama tiga orang sahabatku. Tak ada lagi kata kesendirian, yang ada hanya rasa suka, gembira walaupun sedikit ada sedih yang kita lewati. Mira Alisa Putri adalah namaku, siswi kelas X5 di SMA Tunas Bangsa. Tiga orang sahabatku ini adalah Melinda, Lala, dan Intan. Kami berempat memiliki karakter yang berbeda-beda. Aku lebih cenderung cuek dan mudah akrab, Melinda lumayan pintar di kelas kita dan sering banyak bicara, Intan temenku yang paling ceria dan kami gak pernah melihatnya sedih, sedangkan Lala perempuan yang lumayan cantik dikelas kita.
Selasa, dikelas kami jam pelajaran 3-4 ada mapel fisika. Guru yang ngajar lumayan aneh, selama 9 bulan ngajar gak ada yang nyantol sama sekali. Daripada cuma bengong dan tidur gak jelas, aku memutuskan pergi ke kantin. Aku mengajak ketiga sahabatku buat pergi ke kantin, akhirnya yang kena bujukanku cuma Intan seorang. Yaa, gapapa lah buat temen ngobrol entar. Dikantin cuma ada gue dan Intan, terlihat dari pintu kantin ada seorang lelaki yang masuk ke kantin yang sepertinya kakak kelas. Kami berdua melihat wajahnya dengan cermat, sampai-sampai Intan gak merasa baksonya hilang dua karena kuambil padahal isinya cuma empat. Biarin aja, salah sendiri ngeliatnya lama. Tiba-tiba lelaki tersebut menghampiri meja kami. Intan segera merapikan baju dan rambutnya, gue sih cuek. Setelah aku menatapnya, aku teringat Bian. Dia adalah mantan pacarku dulu yang telah meninggal dua tahun yang lalu karena terkena penyakit kanker otak. Aku melihatnya sampai berkaca-kaca. Aku merasa menemukan sosok Bian kembali dihidupku. Dia ngajak kenalan sama kita, ternyata namanya Dion, dia buru-buru kembali ke kelasnya katanya ada ulangan harian.
Setelah dua tahun aku ditinggal, aku belum menemukan seorang pengganti yang seperti Bian. Hatiku tertutup buat orang lain, karena Bian adalah satu-satunya orang yang akan tetap dihatiku. Tapi, gue harus menerima kenyataan ini, Bian telah tiada dan aku harus melupakan kenangan manis kita. Dan sekarang, aku bertemu kak Dion yang mengingatkan Bian. Bian ada kembali dihidupku.
Setelah sepekan sajak kenalan itu, yang ada dipikiranku cuma kak Dion dan Bian. “Kenapa aku menemukan sosok Bian didiri kak Dion? Ada apa ini? Apa yang akan Engkau rencanakan?” Sekilas pertanyaanku yang sampai sekarang belum ada jawabnya. Aku terus dibayangi dengan pertanyaan itu. Intan, yang duduk semeja denganku tiba-tiba mengagetkanku dengan menggedorkan meja saat aku masih melamun. Sentak, gue kaget dan gue langsung ngomel ke Intan. Ternyata Intan mau bisikin sesuatu.
“Lo tau gak, kalau Lala tuh suka sama Kak Dion yang kemarin kita kenalan di kantin?”
“Apa? Lala suka sama kak Dion.” Jawabku kaget.
Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus ngelupain kak Dion. Bakal sulit buat ngelupain itu. Aku bingung dengan keadaanku sekarang.
Seperti biasa aku memarkirkan sepeda motorku ketempat biasa, tiba-tiba disampingku sudah ada kak Dion yang berdiri didepan ku.
“Ra, entar gue mau ngomong sesuatu sama loe. Istirahat kedua entar gue tunggu di taman dimeja nomor lima. Gue minta loe harus datang, gue mau langsung ke kelas. Gue tunggu entar. Jangan lupa!” kata kak Dion dan langsung pergi begitu aja.
“Ada apa ya? Kok tumben banget, gue jadi deg-degan” kataku.
Dalam kelas gue terus mikirin apa yang akan kak Dion katakan. Kok tumben ya. Gue nunggu-nunggu bel istirahat kedua dan akhirnya berbunyi juga. Gue langsung menuju ke taman di meja nomor lima seperti yang kan Dion katakan tadi. Ternyata disana sudah ada kak Dion dan botol minumannya.
“Ada apa ya kak, kok tumben?” tanyaku
“Emb, gini lhoh Ra. Setelah kemarin gue natap loe, gue teringat seseorang. Gue ngerasa kalo dia tu ada di diri loe” kata kak Dion
“To the point aja kak, aku gak ngerti maksud kakak?”
“Gue dulu punya pacar yang sekarang udah meninggal, dan sekarang gue kaya nemuin dia di diri loe. Hatiku seperti terbuka kembali setelah satu tahun tertutup karena pacar gue ninggalin gue selamanya.” terang kak Dion
“Apa kak? Kenapa bisa sama? Aku juga merasa begitu.” kataku kaget
“Merasa bagaimana?
Aku menjelaskan semua yang ada dipikiranku sekarang dan tentang Bian yang ada di diri kak Dion. Kak Dion kaget dan bingung, kenapa bisa sama. Apa yang akan terjadi nantinya? Setelah aku menjelaskan panjang lebar, kak Dion paham dan tau apa yang akan dilakukan sekarang. Ternyata kak Dion menembakku, ini kesempatanku untuk bisa mengulang masa indah saat dulu aku bersama Bian, tapi gue belum menjawab kak Dion. Kulihat dimeja sampingku ada Lala yang ternyata daritadi mendengarkan pembicaraan kami. Lala marah dan langsung pergi ninggalin kami berdua. Aku merasa seperti orang yang jahat sedunia karena telanh menyakiti hati sahabtanya sendiri.
“Gimana,Ra. Mau nggak?” tanya kak Dion
“ Aku belum bisa jawab sekarang, kak” kataku dan aku langsung pergi menuju kelas.
Kulihat Lala sedang duduk sendiri dan menunuduk. Aku tau Lala pasti sedih, aku gak bermaksud buat nyakitin Lala. Aku menghampiri meja Lala.
“La, maafin gue. Gue gak bermaksud buat nyakitin loe. Kalo loe gak sak suka, gue gak akan nerima kak Dion” kataku
“Loe ngomong apa sih, Ra. Siapa yang gak suka? Gue suka kok kalian pacaran, kalian kan saling mencintai. Thoh, semua orang berhak untuk mencintai. Emang sih gue suka sama kak Dion, tapi gue kan gak ada hak buat maksa kak Dion suka sama gue. Seharusnya gue yang minta maaf, gue gak berhak bersikap kayak tadi sama kalian. Kalo loe beneran suka sama kak Dion sok atu pacaran. Aku yakin kak Dion pasti nyaman berada disampingmu.” Kata Lala dengan tersenyum.
Gue ngerasa seneng banget karena temenku ternyata gak marah sama gue, dan dia juga ngijinin gue buat pacaran sama kak Dion. Gak kebayang kalau aku akan menjadi pacar kak Dion. Gue langsung nemuin kak Dion, gue bilang kalo gue juga suka sama kak Dion dan aku mau jadi pacar kak Dion. Kak Dion terlihat senang sekali dengan hal ini. Kami berdua berdo’a bersama-sama agar kita langgeng dan hanya kematian yang akan memisahkan kita. Semoga kami juga diberikan yang terbaik.
Pagi harinya, kak Dion meminta sesuatu sama gue.
“Ra, boleh gak aku ganti status hubunganku di facebook dari lajang menjadi berpacaran dengan Mira Alisa Putri. Boleh yaa?”pinta kak Dion
Aku hanya bisa ketawa dengan permintaan kak Dion ini, tapi aku juga seneng dan akhirnya aku bolehin deh.
Semenjak kami jadian, aku mengisi waktuku bersama ketiga sahabatku dan satu pacarku ini. Aku berharap semoga kami diberikan yang terbaik dan jauhkanlah kami dari fitnahnya dunia. Dan aku bisa lebih memanfaatkan waktuku sebaik mungkin. Amiinn






0 komentar:
Posting Komentar